Liputan

Workshop Terdahulu

Selain kelas regular saya juga senang membuat kelas dalam format workshop. Biasanya saya berkolaborasi dengan pengajar lainnya sehingga materinya lebih padat dan beragam. 

 

Hingga saat ini saya sudah berkolaborasi dengan beberapa guru yang kelas-kelasnya merupakan favorit saya seperti Thelma Wuisan dan Jane Setiawan. Pada segmen ini saya membagi kisah workshop yang sudah saya jalani, berikut foto-fotonya. 

 

Nantikan liputan tentang workshop saya berikutnya di halaman ini!

Sesuai niat saya dan Jane, tahun ini kami mengadakan tiga workshop dalam seri ini dan judul workshop yang terakhir adalah “Mending a Broken Heart”. Tema yang cocok untuk menutup akhir tahun 😊

 

Kami memilih tema ini karena menurut kami luka di hati tidak hanya disebabkan oleh putus cinta saja, tetapi berbagai kehilangan juga menyebabkan hati terluka. Kadang saking sakitnya dada bisa terasa seperti tertindih dan napas menjadi pendek dan sesak. Jika hal ini dibiarkan terus menerus tentunya bisa merembet ke hal-hal lain yang lebih serius seperti kurang tidur, sakit punggung, dan lain-lain. Di workshop ini kami memberikan tools atau alat untuk mengurangi rasa sakit tersebut. Alatnya adalah tubuh dan pikiran kita sendiri tentunya. Dan latihan-latihan yang kami berikan bisa diulang lagi untuk dilatih di rumah. 

 

Workshop ini kami bagi dalam tiga tahap yang setiap tahapnya terdiri dari sesi yoga asana, sesi membuka bungkusan (yang sudah kami persiapkan) dan sesi menulis kilat:

  1. Yoga asana kami taruh di paling awal tiap sesi karena kami mau menggunakan tubuh sebagai pintu pertama dalam membuka luka hati tersebut. Tubuh dibuat berkeringat dengan berbagai gerakan yoga yang fokusnya adalah core atau kekuatan otot perut sehingga hanya dalam 20 menit semua peserta sudah basah kuyup oleh keringat.

  2. Sesi berikutnya adalah membuka bungkusan. Di sini para peserta dituntut untuk masuk ke meditative state dalam membuka bungkusan tersebut. Jadi tidak boleh saling berbicara karena semua harus fokus pada situasi mental dan emosional masing-masing. Selain itu kertas bungkusannya tidak boleh robek karena akan digunakan untuk menulis. 

  3. Selanjutnya masuk ke tahap menulis dimana hanya diberikan waktu sekitar 3 menit untuk menulis berbagai kata-kata singkat yang timbul pada saat yoga asana dan membuka bungkusan. Para peserta diminta untuk hanya menuliskan keywords, dan tidak boleh menulis dalam bentuk kalimat. Tujuannya adalah agar para peserta belajar untuk melepaskan emosi secara efisien dan mengurangi curhat yang tidak perlu. 

 

Ketiga sesi di atas dilakukan berulang-ulang sebanyak tiga kali. Pada tahap membuka bungkusan yang terakhir para peserta menemukan dua buah coklat yang kami bungkus rapat-rapat. Kami ingin menggambarkan bahwa setiap tahap usaha yang membutuhkan kerja keras pasti ada hasil baiknya. Setelah tahap menulis yang terakhir selesai, para peserta saya pandu untuk masuk ke tahap relaksasi dan kemudian Savasana.

 

Setelah Savasana sekitar 7 menit, Jane membangunkan para peserta dan semuanya diminta untuk membaca lagi ketiga kertas yang sudah ditulis oleh berbagai keywords. Kemudian Jane memberikan instruksi untuk tahap selanjutnya yaitu menulis surat cinta bagi diri sendiri. Surat cinta ini dan kertas-kertas tadi tentunya tidak dikumpulkan ke kami karena ini adalah hal pribadi dan bisa dibaca lagi sebagai pengingat bahwa para peserta sudah sampai di tahap ini dalam menyembuhkan luka batinnya. 

 

Pada akhir workshop kami semua duduk di dalam lingkaran dan melakukan meditasi mudra yang berjudul Forgiving Self. Sedikit bocoran, saya dan Jane sudah beberapa minggu ini rajin berlatih meditasi mudra ini setiap hari dan hasilnya luar biasa 🙂 jadi kami menyarankan agar para peserta bisa latihan meditasi mudra ini dengan teratur. 

 

Dengan demikian program kolaborasi kami untuk tahun ini selesai. A deep gratitude to Jane, Nandinne, Fitri & Rimba Baca and all the participants, thank you so much for your trust and support.

1/5

Minggu lalu, Sabtu 12 Oktober 2019, saya dan Sari Dewi dengan sukses berhasil menggelar kelas kolaborasi yoga dan pound fit. Saya dan Sari sudah berteman sejak SMA; kami sama- sama lulusan SMA Tarakanita 1 di Pulo Raya, dan ketika kuliah kami sama-sama juga di FEUI. Jadi ketika dia sudah mengantongi sertifikat instruktur pound fit (yang disebut Pound Pro), saya terpikir untuk menggabungkan kedua kelas kami agar murid-murid kami bisa merasakan yoga atau pound fit pada satu sesi. Bagi saya pribadi saya ingin agar murid-murid saya terbuka untuk mencoba hal-hal baru dan lebih fleksibel; karena pada akhirnya “yoga off the mat” itu sama pentingnya dengan “yoga on the mat”🙂

 

Kelas Hatha Flow with Chandra KJ and Pound Fit by Sari Dewi ini adalah dua kelas yang digabung menjadi satu, yaitu saya memandu sesi pemanasan dan pendinginan dengan berbagai yoga asana dan Sari memandu sesi cardio yang high impact dengan rangkaian gerakan pound fit. Lokasi yang akhirnya kami pilih adalah area di luar Anicca Studio yang terletak di Jakarta Selatan. Kami sengaja ingin memberikan suasana yang berbeda dari biasanya; apalagi untuk kelas pound fit memang perlu tempat yang luas karena musik yang akan mengiringi biasanya hingar bingar.

Keseruan acara kami ini bisa terlihat jelas di foto-foto yang saya sertakan di sini. Singkat kata, kami betul-betul bahagia karena kelas kami sold out dan yang ikut adalah teman- teman, keluarga dan murid-murid kami. Selain itu kami juga berterima kasih karena didukung oleh Investree dan tentunya Anicca Studio. We really feel the love and we are very blessed to have that support.

REGRET & Guilt.png

Workshop kedua kami dalam seri ini sukses kami berikan pada minggu lalu, Sabtu 7 September di Rimba Baca, dengan mengangkat tema “Regret & Guilt”. Tema ini kedengarannya memang berat, tetapi sebenarnya kedua rasa ini bisa ada di hidup kita dalam skala yang berbeda-beda. Jika rasanya ringan, maka cara untuk melepaskannya biasanya juga mudah; tetapi yang ingin kami berikan pada workshop ini adalah cara release atau melepaskan rasa bersalah dan penyesalan yang sudah terasa di tubuh sebagai rasa tidak nyaman atau bahkan sakit.

Skema workshop ini berbeda dari workshop kami yang pertama pada seri ini; jadi setelah kami duduk hening selama beberapa menit untuk meditasi pembuka, Jane langsung menerangkan tentang apa saja yang akan dikerjakan pada tiga jam ke depan. Apalagi para peserta diminta untuk membawa alat mewarnai seperti pensil warna/krayon/spidol, jadi tentunya mereka ingin tahu apa yang akan dikerjakan sampai butuh alat-alat tersebut. Satu set kertas kerja yang nantinya akan diisi juga dibagikan di awal workshop. Setelah sesi informasi itu selesai, workshop pun langsung dimulai.

 

Sesi pertama dipandu oleh saya dengan sesi pemanasan untuk mempersiapkan tubuh masuk ke sesi yoga asana bagian pertama selama kira-kira 30 menit. Yoga sequence yang saya berikan cukup simple tetapi saya instruksikan untuk ditahan agak lama dan sambil menutup mata. Yoga asana yang saya berikan kebanyakan fokus pada kaki dan otot perut. Setelah asana bagian pertama selesai, para peserta kemudian diam sejenak dalam hening. Jane lalu mengambil alih sebagai fasilitator untuk memandu para peserta untuk melakukan doodling dengan tangan non dominan dan mencatat tiga hal (dengan tangan dominan tentunya), yaitu 1) apa yang dirasakan tubuh, 2) seperti apa rasa sensasi yang timbul, dan 3) emosi apa yang muncul. Jane hanya memberikan waktu sekitar 5 menit untuk sesi ini agar apa yang ditulis benar-benar jujur dan singkat.

 

Sesi kedua dan ketiga sama dengan sesi pertama. Tujuannya memang agar peserta bisa semakin masuk ke dalam dirinya sendiri, go deeper inside yourself, dari mulai tubuh, pikiran dan emosi. Terasa betul bahwa semua peserta semakin terhubung dengan dirinya sendiri, sampai-sampai ketika sesi yoga asana berakhir sayapun minggir dari ruangan tempat workshop karena ingin memberikan privasi kepada para peserta yang sedang berproses menggali diri. Dan ketika masuk bagian relaksasi, semua peserta tampak tidur dengan nyaman.

 

Setelah savasana selesai, Jane membangunkan para peserta untuk kembali duduk dan mengisi kertas kerja. Kali ini para peserta diajak untuk menuliskan action plan yang akan dilakukan agar tubuh dapat terasa semakin nyaman dan membuat afirmasi yang bisa diucapkan setiap hari. Setelah itu saya kembali mengambil alih sebagai fasilitator untuk memberikan panduan sesi terakhir yaitu meditasi dengan menggunakan mudra atau gerakan tangan yang bernama Kanishta Shahira Mudra.

Di penghujung acara seperti biasa kami menerima sesi tanya jawab, dan yang selalu membuat saya ekstra bahagia adalah mendengar sharing dari para peserta. 😊

 

Terima kasih sekali lagi yang teramat sangat saya sampaikan sekali lagi kepada teman- teman peserta, Jane yang sekarang sudah membuka studio yoga bernama Anahata di Kemang, Nandinne dari Anahata yang membantu kami mempersiapkan tempat dan mengambil foto, dan Rimba Baca yang telah menyediakan tempatnya yang nyaman untuk kami pakai workshop. Sampai jumpa di workshop kami berikutnya!

Semua materi yang saya berikan ketika saya mengajar datang dari latihan personal saya; begitu juga tentunya dengan materi yang saya berikan pada workshop yoga & essential oil. Bagi peserta yang ikut workshop pertama mungkin bisa melihat bahwa tema yang saya berikan sebenarnya bersambung, tetapi tentu saja bisa diikuti secara individual karena menurut saya pada akhirnya kita akan dapat ilmu yang memang sudah waktunya kita dapatkan pada saat ini.

Setelah melewati workshop pertama dengan essential oil (EO) Patchouli yang tujuannya agar kita merasa nyaman dengan tubuh kita, bulan Juli ini saya mengadakan workshop yang kedua dengan memakai essential oil Eucalyptus. Ini adalah EO yang tentunya sudah tidak asing lagi namanya, tetapi mungkin banyak yang tidak tahu Eucalyptus mempunyai kualitas untuk membantu kita merasakan grounding dan mantap dengan diri kita sendiri, orang- orang lain, dan pekerjaan kita. Disini tampak jelas bahwa kualitasnya lebih luas daripada Patchouli yang ruang lingkupnya hanya tubuh kita sendiri saja. Dengan Eucalyptus ini saya ingin mengajak agar para peserta bisa merasakan grounding, balanced dan centered pada saat kita berinteraksi dengan orang-orang di sekitar kita.

Rasa grounding, balanced dan centered itu memang sesuatu yang abstrak, tetapi menurut saya penting untuk bisa dirasakan agar sehari-hari kita bisa fokus menjalankan jadwal dan rencana, dan apa yang kita kerjaan ada hasilnya yang nyata. Karena abstrak itulah maka alat yang paling mudah digunakan agar rasa-rasa itu bisa tercapai adalah melalui gerak badan. Oleh sebab itulah kedua workshop yoga & essential oil yang saya berikan selalu menggunakan tubuh untuk bergerak, dan gerakan-gerakan yang dipakai tentu saja adalah yoga asana.

Rangkaian yoga asana yang saya berikan tidak ada yang rumit, tetapi tetap membuat tubuh basah kuyup oleh keringat. Kombinasi yang saya berikan juga bervariasi dengan tujuan agar pikiran bisa ingat untuk kembali ke fokus grounding di tengah-tengah melakukan berbagai yoga asana ini. Savasana yang panjang di akhir sesi semakin membulatkan rasa seimbang pada seluruh bagian jiwa, raga, energi dan perasaan.

1/6

Terima kasih banyak untuk semua teman-teman peserta yang sudah meluangkan waktu untuk ikut workshop ini... terima kasih atas kepercayaannya dan partisipasinya, I am humbled and grateful to be part of your self-exploration journey! 🙂

Dua minggu yang lalu saya dan Jane Setiawan menggelar workshop keempat kami yang berjudul “A Series of Mind, Body and Emotion Practice – Disappointment and Anger”. Untuk beberapa teman-teman yang sering mengikuti workshop kami mungkin menyadari bahwa ini adalah seri baru. Rencananya kami akan mengadakan dua atau tiga workshop lagi di dalam seri ini. Semoga bisa terwujud ya...😊

 

Workshop ini memang berbeda dengan ketiga workshop kami sebelumnya yang selain ada sesi latihan yoga asana, juga ada porsi moving meditation nya. Sedangkan pada workshop ini yang dilatih justru konsentrasi. Latihan konsentrasi dan fokus inilah yang kemudian digunakan untuk menggali kedua emosi yang menjadi judul dari workshop ini, yaitu disappointment (kekecewaan) dan anger (kemarahan). Pada workshop ini, Jane memandu sesi meditasi dan fokus, dan saya memandu sesi latihan yoga asana.

 

Pada sesi yang dipandu oleh Jane, dia membagikan beberapa kertas kerja khusus untuk membantu para peserta menggali emosi mereka dan menuangkannya dalam tulisan. Ide untuk mengingat emosi-emosi tersebut bisa diambil dari mana saja, dari berbagai benda yang ada di ruangan lantai dua Rimba Baca. Kemudian baru emosi-emosi tersebut dilepaskan lewat latihan yoga asana yang berkeringat. Khusus untuk workshop ini saya memberikan jenis yoga Vinyasa Flow; jadi kami terus bergerak berpindah-pindah dari satu asana ke asana berikutnya sambil menjaga agar napas tetap stabil. Sesekali saya berikan break dengan masuk ke Child’s Pose, bahkan duduk dan minum sebentar.

Selesai sesi yoga asana yang ditutup dengan meditasi, Jane kembali memegang peranan sebagai instruktur dan para peserta kembali berkutat dengan kertas kerja masing-masing. Kertas kerja ini sifatnya personal jadi tidak untuk dikumpulkan ke kami dan sebaiknya juga tidak diperlihatkan kepada orang lain.

 

Workshop ini kami tutup dengan closing circle, jadi kami semua duduk membentuk lingkaran dan meditasi sejenak. Dengan adanya meditasi di lingkaran pada awal dan akhir workshop terasa sekali bahwa apa yang kami share di sini hanya untuk di sini saja dan bukan untuk dibahas di luar workshop dengan orang-orang lain. Ketika sesi tanya jawab dan sharing tiba, beberapa peserta menceritakan tentang apa yang mereka rasakan, and    I am deeply honored and grateful to be part of that journey. Terima kasih teman-teman semua yang sudah ikut workshop kami ini, terima kasih untuk kepercayaanya dan dukungannya. Terima kasih juga tentunya untuk Jane untuk semuanya (akan panjang kalau perlu disebutkan satu-satu 😊). Sampai jumpa di workshop kami berikutnya!

Tahun 2019 ini saya keluar dari comfort zone dan mengadakan workshop sendiri yang temanya adalah sesuatu hal yang sehari-hari saya pakai, yaitu essential oil atau yang singkatnya sering disebut EO. Saya sudah memakai EO sejak lima tahun yang lalu dan memang banyak fungsi obat yang akhirnya saya gantikan dengan EO. Tetapi, untuk beberapa penyakit tertentu saya tetap ke dokter ya... justru dengan EO ini saya jadi belajar untuk lebih peka dan tahu kapan perlu ke dokter dan kapan bisa memakai EO.

Tahun-tahun lalu ada saja saya memberikan kelas Yoga & EO, tetapi belum pernah dalam format workshop 2 jam. Akhirnya setelah mempelajari dan memakai beberapa EO dengan cukup intense, sayapun merasa siap. Oil yang saya pilih adalah Patchouli karena mempunyai kualitas yang saya rasa perlu untuk kita semua yaitu membantu kita untuk betul-betul hidup di dalam tubuh kita dan merasakan present moment yang apa adanya. Karena seperti kita rasakan sendiri dengan berbagai kesibukan yang mengejar kita setiap hari, kadang kita sibuk hidup di pikiran dan rencana-rencana sehingga tidak sadar apa yang sedang dirasakan oleh tubuh kita.

Workshop saya buka dengan sedikit cerita tentang EO ini; Patchouli diekstrak dari daunnya, ini adalah tanaman yang satu keluarga dengan peppermint. Tetapi menurut saya oil ini unik karena wanginya menyerupai oil yang diekstrak dari kayunya karena cenderung berempah dan memberi rasa grounding. Beberapa botol EO berisi Patchouli saya sebarkan kepada para peserta untuk dipakai bergantian, caranya adalah teteskan EO di tangan kiri kemudian putar kedua telapak tangan dan oles ke telapak kaki, punggung bawah dan punggung tengah, kemudian kami melakukan meditasi pembuka bersama-sama dan latihan yoga asana pun dimulai.

workshopyoga&eo.jpg
IMG_0641 2.jpg
IMG_0625.jpg

Sequence yang sudah saya siapkan untuk workshop ini terus terang melelahkan ;) hehehe... karena intention nya merasakan tubuh, jadi cara apa lagi yang paling cocok selain melakukan berbagai gerakan yang berganti-ganti dan membuat tubuh berkeringat. Dengan napas kita jadi mengetahui gerakan-gerakan mana yang perlu diganti dengan variasi yang lebih mudah, atau mungkin tubuh kita perlu pause sebentar dengan Child’s Pose. Ketika kami masuk ke tahap cooling down, terdengar suara-suara bernapas lega... dan Savasana pun terasa sangat rewarding.

IMG_0753.jpg
612c152f-81af-43ed-a505-7dce17b85e94.jpg
b763e16e-da2c-45b3-b583-4eab08fc3c9e.jpg
f06ab05f-d6ec-421f-b332-a10c80e7526b.jpg

Yang menyenangkan adalah ketika selesai para peserta banyak yang tidak langsung pulang, dan kami pun terlibat diskusi seputar EO dan yoga. Sampai di rumah yang saya rasakan adalah kebahagiaan yang mendalam dan rasa syukur karena telah membagi ilmu yang saya miliki ini kepada para teman-teman peserta.

Terima kasih kepada Fitri dan Rimba Baca yang telah menyediakan tempat untuk kami berlatih yoga setiap minggu dan juga untuk workshop ini, dan karena telah menyempatkan diri datang untuk foto-foto! Terima kasih untuk teman-teman semua yang sudah ikut partisipasi di workshop ini! Your presence is what inspires me every day.

LIPUTAN SINGKAT WORKSHOP

CONNECTING BOUNDARY TO

FEMALE REPRODUCTIVE HEALTH

BAGIAN 2

Setelah menunggu dengan penuh semangat selama 3 minggu, akhirnya hari Sabtu tanggal 15 Desember tiba. Para peserta workshop bagian 2 tiba di Rimba Baca sebelum jam 7:30. Sebagian adalah peserta yang sudah ikut di bagian 1, yang tentunya penasaran dengan pembahasan lanjutan ini.

 

Jam 7:30 tepat Mba Thelma langsung memulai workshop karena pembahasan yang dia berikan sangat padat, tetapi tentunya menarik. Semua peserta menyimak dengan serius, bahkan beberapa peserta ada yang melontarkan pertanyaan-pertanyaan. 

 

Bagi saya pribadi banyak sekali AHA moments yang saya dapatkan dari ilmu-ilmu di kedua workshop ini, bahkan ada yang membuat saya berdamai dengan suatu situasi yang sudah membuat saya kesal sejak saya masih remaja. 

 

Berikut ini ada beberapa foto-foto suasana workshop bagian 2😊.

Terima kasih bagi teman-teman yang sudah berpartisipasi di workshop ini, sampai bertemu lagi di workshop selanjutnya tahun depan!

1/5

LIPUTAN WORKSHOP

CONNECTING BOUNDARY TO

FEMALE REPRODUCTIVE HEALTH

BAGIAN 1

Dalam rangka tutup tahun 2018 ini, saya mengundang guru saya, Thelma Wuisan dari Karmarati, untuk mengadakan workshop di Yoga Rimba Baca. Berbeda dengan workshop sebelumnya yang pernah saya adakan berdua dengan Mba Thelma; kali ini saya hanya menjadi host dan formatnya adalah diskusi khusus wanita dan tidak ada kelas yoganya. Alasannya adalah karena materinya sangat padat dan intense, jadi kami ingin agar peserta yang ikut bisa mendapatkan ilmu dengan maksimal. 

 

Topiknya kami pilih sesuai diskusi saya dengan Mba Thelma berkaitan dengan perjalanan saya selama setahun kemarin berkutat dengan siklus menstruasi yang berkepanjangan karena ada myom di tengah rahim. Berbagai cara saya jalani untuk pulih; kunjungan rutin ke dokter kandungan tentu saja saya lakukan, selain itu saya juga menjalankan berbagai latihan untuk melepaskan emotional baggage yang ilmunya saya dapatkan dari Mba Thelma. Seiring dengan saya sharing ke teman-teman dan murid-murid akan situasi saya pada saat itu, semakin banyak saya mendengar bahwa saya tidak sendirian. Akhirnya ketika saya sudah menjalani operasi pengangkatan myom melalui prosedur laparotomy, sayapun meminta Mba Thelma untuk memberikan workshop yang membahas tentang kesehatan organ-organ wanita dari sisi energi dan psikologis. Jadi perlu saya tekankan sekali lagi di sini, kunjungan rutin ke dokter (kandungan atau dokter apapun yang sesuai dengan penyakit yang diderita) tetap penting.

 

Karena padatnya materi yang akan dibahas, Mba Thelma membagi workshop ini menjadi 2 waktu yang berbeda. Bagian 1 yang diadakan pada Selasa 20 November 2018 membahas tentang siklus kewanitaan dan kesehataan organ reproduksi (area pinggul). Workshop yang diadakan jam 7:30 pagi pada hari libur tanggal merah ini ternyata tetap membuat para peserta semangat dan datang lebih awal. 

Workshop dibuka dengan meditasi singkat dan intention agar seluruh jiwa raga bisa menerima ilmu yang diberikan dengan hati dan pikiran yang terbuka. Selanjutnya kami semua menyimak dengan semangat. Beberapa peserta dengan antusias melontarkan pertanyaan-pertanyaan, ada juga yang memberikan komentar-komentar yang mengandung pencerahan. Terus terang bagi saya, semua workshop yang diberikan Mba Thelma selalu membuat saya mendapatkan AHA Moments baru. Saya lihat inilah yang didapatkan teman-teman peserta hari Selasa lalu itu 🙂

 

Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan jam 9:30 tapi masih banyak pertanyaan-pertanyaan yang bergulir dari para peserta. Setelah menjawab satu per satu, Mba Thelma menutup workshop bagian 1 ini. Kamipun mengucapkan terima kasih dan meninggalkan Rimba Baca dengan pikiran yang penuh semangat karena dapat ilmu baru untuk mengenal diri sendiri lebih dalam lagi. 

 

Jangan lupa masih ada bagian 2 dan pasti akan lebih seru lagi! Nantikan foto-fotonya pada pertengahan Desember, dan bagi yang ingin mengetahui detil workshop ini bisa membaca keterangannya di website saya ini, pada kolom Kelas & Workshop

1/1

Kilas Balik Workshop

"Moving Forward with Courage"

Workshop kami yang berjudul Moving Forward with Courage adalah workshop ketiga dari Body Awareness Yoga Workshop yang sudah kami adakan sejak akhir tahun 2017. Workshop kami ini tidak bersambung, jadi siapapun bisa ikut. Moving Forward with Courage kami hadirkan dengan tujuan memberikan latihan yoga dan meditasi yang bisa membantu para peserta untuk maju ke arah tujuan yang jelas dengan penuh keberanian. Tetapi keberanian yang kami maksud disini lebih ke arah percaya diri, bukan ke arah agresi. Selain itu kami juga ingin memasukkan unsur ikhlas, ringan, dan riang. 

 

Berbagai definisi di atas tentunya akan sulit dirasakan jika hanya diceritakan atau dibayangkan saja. Jadi untuk merasakan semua itu kita memang harus bergerak dengan tubuh dan mempunyai hubungan yang dekat dengan tubuh dan napas. 

 

Sama seperti dua workshop sebelumnya, saya mendapatkan sesi pertama karena sesi pembuka adalah kelas yoga dengan instruksi. Yoga sequence yang saya berikan di workshop ini sengaja saya berikan dengan ritme pelan karena saya ingin agar rasa yang didapat adalah lega dan ringan. Walaupun tentunya tetap ada yoga asana yang tujuannya menguatkan core seperti Boat Pose dan Plank Pose karena asana puncaknya adalah Dancer’s Pose yang membutuhkan core yang kuat karena harus berdiri di satu kaki. 

 

Sesi cooling down tidak saya lanjutkan dengan Savasana, karena selanjutnya masuk ke bagian Intuitive Practice yang dipandu oleh Jane. Bagi yang belum pernah merasakan intuitive practice tentunya cukup kaget ketika Jane mengatakan bahwa yoga mat agar digulung dan diletakkan di pinggir ruangan. Intuitive practice memang berbeda dengan latihan yoga karena instruksi yang diberikan tidak bersifat petunjuk untuk gerakan tertentu melainkan petunjuk untuk menggerakkan anggota badan. Contohnya, pada latihan yoga guru akan menginstruksikan untuk melakukan Warrior II dengan instruksi seperti rentangkan tangan, tekuk satu lutut, dan sebagainya; sedangkan pada intuitive practice instruksi yang diberikan adalah menggerakkan tangan, bahu, dan kaki. Disini kita memang diajak untuk merasakan tubuh dan bergerak sesuai dengan intuisi masing-masing. Untuk saya latihan ini bisa dikatakan meditasi, tetapi sambil bergerak atau yang sering disebut moving meditation

 

Sesuai dengan tema workshop ini maka gerakan-gerakan yang dipandu Jane mempunyai tujuan untuk membuka mindset menjadi terbuka, optimis, dan penuh keberanian. Jadi pada latihan ini kita bukannya bergerak kesana kemari tanpa tujuan, tetapi semua gerakan yang kita lakukan mempunyai arti tersendiri. Lagu-lagu yang dipilih semuanya juga yang mempunyai nada dan lirik yang optimis dan riang gembira. Menariknya lagi, seminggu sebelum workshop kami sudah memberikan tugas kepada pada peserta lewat email untuk menyiapkan satu isu/permasalahan yang berupa pola perilaku atau kebiasaan yang ingin diubah. Nanti hal tersebut akan kita lepas bersama-sama. 

 

Setelah satu jam bergerak dengan penuh kebebasan, akhirnya kami pun sampai di penghujung latihan dan masuk ke Savasana atau relaksasi yang terasa nyaman dan rileks. Setelah membangunkan peserta dari savasana, Jane langsung memberikan instruksi untuk mencatat pengalaman yang didapat. Tentunya catatan itu tidak untuk dikumpulkan ke kami karena itupun bagian dari latihan melepaskan segala hal yg sudah tidak penting lagi. Kadang hal-hal yg keluar bisa berupa gambar atau coret-coret, dan bukan tulisan yang berupa cerita. Semuanya sah-sah saja yang penting dikeluarkan dan dilepaskan. 

 

Terima kasih dari lubuk hati kami yang terdalam bagi semua peserta yang sudah ikutan dan berpartisipasi, dan semoga kita bisa bertemu lagi di workshop kami yang berikutnya!

Cerita Singkat Mengenai Workshop

"Flowing with Healthy Boundary"

Pada kesempatan kali ini saya ingin memberikan laporan singkat mengenai workshop kami.

 

Sesuai temanya, saya dan Jane memang mempersiapkan kelas yang "flowing". Workshop dibuka dengan penjelasan singkat dari Jane mengenai agenda kita. Penjelasan Jane cukup singkat tetapi padat karena memang banyak dari peserta yang bertanya kepada kami lewat email, "apakah itu intuitive practice?".

Untuk bagian yoga asana, sesuai dengan tema maka saya memberikan gerakan-gerakan yang banyak fokus ke pinggul. Sesi yoga asana saya buka dengan meditasi sambil berbaring di lantai sambil melakukan Supta Badha Konasana (Reclining Bound Angle Pose). Tujuannya agar para peserta bisa merasakan meditasi dengan posisi lain yang bukan duduk.

Beberapa gerakan pemanasan juga kami lakukan sambil berbaring. Kemudian pelan-pelan kami mulai pindah ke posisi table top untuk melakukan pemanasan lebih lanjut. Ketika badan mulai terasa panas, kami pun mulai melakukan berbagai yoga asana dalam posisi berdiri, yang lama setiap gerakan ditahan sekitar 5-10 napas.

Fase pendinginan atau winding down dilakukan dengan Child's Pose dan berbagai asana yang duduk. Salah satunya tentu saja Badha Konasana.

 

Karena setelah latihan yoga asana kita akan masuk ke sesi intuitive practice, jadi sesi yang saya pandu diakhiri dengan meditasi sambil duduk, dan bukan Savasana atau relaksasi. Hal ini agar tingkat energi para peserta tidak turun dan semua bisa melanjutkan ke sesi berikutnya.

 

Intuitive practice adalah latihan mendengarkan tubuh dan bergerak mengikuti kebutuhan tubuh. Jadi berbeda dengan latihan yoga asana yang gerakan-gerakannya diberi instruksi dan harus mengikuti instruksi yang ada. Ini adalah latihan yang sangat sederhana tetapi kadang dikesampingkan karena pikiran sudah mendominasi aktivitas kita sehari-hari dengan berbagai kesibukan. Padahal intuitive practice ini tidak perlu waktu yang lama; 15-30 menit saja sudah cukup asal dilakukan rutin dan dengan penuh perhatian. Kesamaannya dengan latihan yoga asana adalah dalam melakukan intuitive practice kita dituntut untuk fokus ke napas dan mendengarkan tubuh.

Instruksi-instruksi yang diberikan Jane bisa dikatakan abstrak jika kita berlatih dengan mata terbuka; untungnya intuitive practice ini dilakukan dengan mata tertutup. Jadi instruksi yang berupa, misalnya, gerakkan tangan, bisa diartikan luas yaitu menggerakkan jari-jari, memutar-mutar pergelangan tangan, menggoyang-goyangkan bahu, dan lain sebagainya. Tidak ada gerakan yang salah dalam latihan ini.  Selain itu Jane juga memasang berbagai lagu, jadi gerakan-gerakan terasa ringan dan flowing. Sesi pertama dari intutive practice dilakukan mulai dari duduk sampai berdiri, di atas matras masing-masing.

Sesi kedua adalah favorit saya, karena kita semua boleh berjalan mengelilingi ruangan, sambil bergerak bebas dan tetap merasakan kehadiran orang-orang di sekeliling kita. Mata boleh ditutup, tetapi jika takut menabrak orang (atau malah tembok) maka mata boleh dibuka tetapi pandangan diarahkan ke bawah.

 

Workshop kami ini ditutup dengan Savasana yang tentunya terasa nikmat sekali.

 

Terima kasih sekali lagi dari kami berdua untuk teman-teman yang sudah ikut workshop kami ini :) 

Berikut ini contact info dari Jane:

JANE SETIAWAN:

Thank you so much for reading this post!  Looking forward to practice with you soon :) Namaste.

Copyright © 2020 by Yoga with Chandra KJ!

- May all beings be happy, blessed, and free -

  • YouTube
  • Facebook